Rusyad Adi Suriyanto, S.Sos, M.Hum, adalah satu staff Lab. Bioantropologi & Paleoantropologi (LBP), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, menjadi pemateri dalam Worshop Konservasi Fosil yang diselenggarakan pada tanggal 16-21 Juli 2018 oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di bawah Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Hotel Sunan Surakarta. Workshop ini dihadiri oleh perwakilan museum-museum dari seluruh wilayah Indonesia.
Rusyad Adi Suriyanto mengangkat tema tentang osteology, identifikasi, dan manusia purba, terkait dengan temuan-temuan manusia purba di Indonesia. Dalam ceramahnya Rusyad menekankan bahwa pemahaman tentang osteology merupakan langkah awal untuk menuju kompetensi dalam identifikasi, yang selanjutnya juga diterapkan pada tulang peninggalan manusia purba
Kegiatan
Rusyad Adi Suriyanto, MHum, seorang dosen staff Laboratorium Bioantropologi & Paleoantropologi (LBP), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, menjadi narasumber pada Kuliah Lapangan tentang Evolusi untuk mahasiswa Departemen Biologi Universitas Negeri Yogyakarta di Kompleks Museum dan Situs Manusia Purba Sangiran pada tanggal 28 Maret 2018.
Kuliah lapangan dibagi dalam beberapa segmen, yakni ceramah, kunjungan museum, dan pengamatan lapangan di situs Sangiran. Berikut dokumentasi kegiatan mahasiswa pada acara tersebut:
Salah seorang staff Lab. Bioantropologi & Paleoantropologi (LBP), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Rusyad Adi Suriyanto, MHum, menjadi narasumber dan ekskursi Evolusi Lapangan untuk para mahasiswa Semester IV Departemen Antropologi Universitas Airlangga di Kompleks Museum dan Situs Manusia Purba Sangiran pada 10 April 2018.
Acara ekskursi dibagi dalam dua bagian, yakni ceramah dan kunjungan museum, serta pengamatan lapangan di situs Sangiran. Dalam ceramah berjudul “Manusia Purba di Jawa,” Rusyad Adi Suriyanto menerangkan tentang sejarah dan situs-situs manusia purba di Pulau Jawa.
Salah satu staff Lab. Bio- & Paleoantropologi (LBP), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Rusyad Adi Suriyanto, menjadi pemateri “Manusia Purba” dalam “Sosialisasi dan Penyebarluasan Informasi Pelestarian Cagar Budaya untuk MGMP IPS Surakarta” di Hotel Dana Solo pada Kamis 8 Maret 2018. Program ini diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Rusyad Adi Suriyanto dalam ceramahnya menyatakan bahwa pertanyaan paling kuno yang terus dicari jawabnya adalah “Dari mana asal kehidupan” dan “Bagaimana bentuk pertama kehidupan”. Upaya itu telah dilakukan oleh pemikir-pemikir sejak dulu, dari mulai munculnya mitos-mitos tentang asal-usul kehidupan dan manusia, sampai pemikir-pemikir Yunani, Timur Tengah dan Eropa Barat. Dasar pemikiran itulah yang kemudian dibawa oleh Eugene Dubois untuk obsesinya: “Mengapa kita perlu mempelajari manusia purba?” Obsesi ini membawa Eugene Dubois untuk mencari leluhur manusia ke Nusantara pada tahun 1886 dengan berlabuh di Teluk Bayur, Sumatera Barat. Setahun berikutnya beliau mendapat kejutan dari Wajak, Tulungagung, atas temuan Homo wajakensis (sekarang hanyak disebut sebagai Homo sapiens wajak yang berumur 6 – 10 ribu tahun yang lalu). Berikutnya beliau mendapatkan atap tengkorak di Kedungbrubus, Madiun. Pada tahun 1890 kejutan datang atas ekskavasinya di Trinil yang menggeparkan dunia karena temuan atap tengkorak dan femur yang dinyatakan sebagai spesies baru Pithecanthropus erectus (sekarang hanya disebut sebagai Homo erectus). Penelitian berikutnya dilanjutkan oleh GHR von Koenigswal di Ngandong, Blora dan Sangiran, Karanganyar dan Sragen, yang menghasilkan jumlah besar Hominid, yakni Homo erestus robustus, Homo erectus erectus, Homo erectus soloensis dan Meganthropus paleojavanicus. Kiprahnya makin membawa nama Indonesia sebagai tempat penting untuk mempelajari manusia purba beserta lingkungan dan budaya di dunia. Kecemerlangan penelitian itu dilanjutkan para ilmuwan Indonesia sendiri, yakni ahli paleoantropologi Prof. T. Jacob, ahli geologi-paleontologi Prof. S. Sartono dan ahli arkeologi prasejarah Prof. R.P. Soejono. Berikut foto-fotonya
Penelitian dan ekskavasi untuk melacak jejak migrasi dan permukiman Austronesia di situs Plawangan telah berlangsung beberapa periode yang lalu, yang dimulai sekitar awal tahun 1980-an. Beberapa temuan manusia Plawangan Neolitik itu tersimpan di Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Penelitian yang belakangan sekitar empat periode, yang dimulai pada tahun 2014 telah menghasilkan beberapa temuan manusia beserta asosiasi budaya dan lingkungannya yang membentang dari pesisir Binangun sampai Plawangan, dari Kecamatan Sluke sampai Kragan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada periode tahun 2016, ekskavasi di Plawangan membuka tiga kotak ekskavasi di beberapa kawasannya. Kotak 2 telah menemukan satu individu laki-laki dewasa, satu individu laki-laki remaja awal dan dua anak-anak. Dua individu pertama tidak diangkat untuk penelitian lebih lanjut di Gedung Artefak Arkeologi, Plawangan, Kragan, Rembang. Sengaja dua individu yang relatif utuh dalam konteksnya itu ditimbun lagi dengan teknik konservasi arkeologis untuk tujuan casting in situ.
Seorang staf Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Rusyad Adi Suriyanto, diminta bantuan sebagai tenaga ahli di bidang paleoantropologi dan paleozoologi oleh Departemen Antropologi Universitas Airlangga untuk ekskavasi dan memberikan pelatihan keterampilan lapangan paleoantropologis bagi para mahasiswanya. Ekskavasi itu merupakan aktivitas kelanjutan ekskavasi tahun-tahun sebelumnya. Aktivitas itu juga mengemban tugas untuk pengembangan bidang paleoantropologinya secara terpadu, dari pemahaman teoretis ke praktek lapangan. Ekskavasi itu dikerjakan di sebuah gua di wilayah Kademangan, Blitar, Jawa Timur. Berdasarkan temuan-temuan sebelumnya, gua itu diduga sebagai hunian manusia awal Holosen di bentang selatan Jawa. Kerja lapangan ini berlangsung pada 13 – 20 November 2016. Ekskavasi yang dikerjakan multi dan interdisipliner itu melibatkan tenaga ahli paleoantropologi, paleozoologi, paleontologi, geoarkeologi dan bioarkeologi.
Tahun ajaran 2016 dengan dana dari DAMAS Fakultas Kedokteran UGM, kegiatan penelitian bioantropologi di Lab. Bio- & Paleoantropologi mengambil judul “Kajian perawakan dan status hidrasi terhadap kesegaran jasmani siswa sekolah usia 15-19 tahun di DI Yogyakarta.”
Penelitian dengan principal investigator (PI) Neni Trilusiana Rahmawati, PhD. ini dilaksanakan selama bulan Agustus 2016 dengan mengambil lokasi beberapa sekolah menengah di Kabupaten Bantul. Penelitian ini melibatkan lima orang mahasiswa S1 Prodi Pendidikan dokter dan seorang mahasiswa S2 program Ilmu Kedokteran Dasar. Berikut foto-foto kegiatan Penelitian Bioantropologi di SMA N 2 Jetis, Bantul, Yogyakarta