Universitas Gadjah Mada Laboratorium Bio- & Paleoantropologi
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Kontak
  • Koleksi Fosil
    • Manusia Purba
    • Avertebrata
    • Vertebrata
    • Tumbuhan
    • Tulang Sub-Recent
    • Artefak
  • Museum
    • Koleksi & Galeri
    • Kunjungan
  • Kegiatan
    • Perkuliahan
    • Penelitian Bioantropologi
    • Penelitian Paleoantropologi
    • Penelitian Mahasiswa
    • Pengabdian Masyarakat
    • Seminar
    • Artikel
  • Layanan
    • Kerjasama Penelitian
    • Akses Repositori Fosil
    • Akses Penelitian Fosil
    • Akses Perpustakaan
    • Peminjaman Alat Penelitian
    • Kursus/Pelatihan
  • Beranda
  • Kegiatan
  • Penelitian Paleoantropologi
Arsip:

Penelitian Paleoantropologi

Melacak Cara Berjalan Homo erectus: Laboratorium Bio- dan Paleoantropologi, FK-KMK, UGM dan Laboratory of Human History, University of Tokyo Berkolaborasi Lagi

Penelitian Paleoantropologi Monday, 21 July 2025

Laboratorium Bio- dan Paleoantropologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM (FK-KMK UGM) kembali mendapatkan kunjugan  tamu istimewa dari Jepang yaitu Prof. Yousuke Kaifu, pakar Paleoantropologi berasal  dari University of Tokyo, yang kembali mengunjungi  laboratorium ini pada 14 hingga 17 Juli 2025. Kunjungan ini bukan yang pertama, namun tetap menjadi momen penting bagi perkembangan ilmu evolusi manusia di Indonesia.

Prof. Kaifu adalah Kepala Laboratory of Human History di University Museum, University of Tokyo, serta memimpin divisi Human Evolution. Reputasinya dikenal luas, terutama dalam kajian Homo erectus dari Jawa. Kunjungannya kali ini difokuskan pada penelitian mengenai pola gerak tubuh dan cara berjalan Homo erectus, berdasarkan studi terhadap fosil tulang kering (tibia) yang ditemukan di situs arkeologi Ngandong. Fosil tersebut kemudian dibandingkan dengan beberapa tulang kering (tibia) manusia dari beberapa situs arkeologi di Indonesia dan beberapa tulang kering manusia modern. read more

Prof. T. Jacob Paleoantropolog Indonesia Pertama

Penelitian Paleoantropologi Wednesday, 19 October 2022

Mengenang Prof. Dr. T. Jacob, M.S., M.D., D.Sc. ang ionir dan egawan aleoantropologi Indonesia

(6 Desember 1929 – 17 Oktober 2007)

Rusyad Adi Suriyanto

(Bagian Ketiga)

Curriculum vitae Prof. T. Jacob ini akan digambarkan secara singkat karena ruang ini tidak mungkin mampu untuk menghimpun kiprah dan karyanya yang begitu kaya dan membentang dalam kurun waktu yang relatif panjang. Beliau lahir 6 Desember 1929 di Peureulak, Aceh Timur. Kedua orang tuanya adalah Teuku Soeleiman dan Tjut Kariman. Jacob kecil mulai masuk sekolah di HIS Poesaka, Peureulak, pada tahun 1936, dan HIS Langsa pada tahun 1938, dan menamatkannya pada tahun 1942. Pendidikannya dilanjutkan di Kokumin Gakkö Langsa dari tahun 1942 sampai 1943. Selanjutnya, sekolah menengahnya harus ditempuh di Kutaraja dengan masuk ke Tygakkö dari tahun 1943 sampai 1945, dan sekolah ini di masa kemudian berganti menjadi Sekolah Menengah Kutaraja pada tahun 1945. Beliau telah menyelesaikan sekolah ini pada tahun 1946. Pendidikan lanjutannya ditempuh di Sekolah Menengah Tinggi Kutaraja Banda Aceh dari tahun 1946 sampai 1949. read more

Prof. T. Jacob dan Usulan Hari Paleoantropologi Indonesia

Penelitian Paleoantropologi Wednesday, 19 October 2022

Mengenang Prof. Dr. T. Jacob, M.S., M.D., D.Sc. Sang Pionir dan Begawan Paleoantropologi Indonesia

(6 Desember 1929 – 17 Oktober 2007)

Rusyad Adi Suriyanto

(Bagian Kedua)

Indonesia telah mencatatkan tinta emas untuk seorang pionir Eugène Dubois. Eugène Dubois dilahirkan pada 28 Januari 1858 di Kota Eijsden, Belanda. Sejak masa anak-anak, beliau sudah sangat tertarik pada sejarah alam – sebenarnya minat ini hasil enkulturasi ayahnya. Beliau telah belajar ilmu kedokteran dan lulus sebagai dokter pada tahun 1884. Dua tahun kemudian beliau telah diangkat sebagai dosen anatomi di Universitas Amsterdam, dan selanjutnya menikah di tahun yang sama. Setahun berlalu, dan jenuh dengan pekerjaannya sebagai dosen anatomi terutama tugas mengajar, tiba-tiba obsesi lamanya tidak mampu untuk dibendung, yakni berkeinginan untuk membuktikan hasil penelitian dan teori evolusi Charles Darwin, Alfred Russel Wallace dan Ernst Haeckel. read more

Prof. T. Jacob dan Asal-Usul Homo Erectus

Penelitian Paleoantropologi Wednesday, 19 October 2022

Mengenang Prof. Dr. T. Jacob, M.S., M.D., D.Sc. Sang Pionir dan Begawan Paleoantropologi Indonesia

(6 Desember 1929 – 17 Oktober 2007)

Rusyad Adi Suriyanto

(Bagian ertama)

Jacob pernah menyebut paleoantropologi adalah ilmu manusia purba. Dalam arti luas, ilmu ini meliputi tidak hanya manusia, tetapi juga karya dan lingkungannya; dan dalam arti sempit, ilmu ini mempelajari evolusi dan variasi biologis manusia purba (early men), serta biasanya ilmu ini juga dapat meliputi kajian tentang manusia kuno (ancient men), sejak akhir Pleistosen hingga beberapa ratus tahun yang lalu. Pendek kalimat, konsentrasi kajian paleoantropologi ini meliputi babakan akhir liputan paleoprimatologi hingga liputan awal antropologi historis. Pastilah sisa-sisanya yang ditemukan itu berupa sampel kebetulan, yang kemudian direkonstruksi untuk mengetahui biologinya, dan jika memungkinkan kondisinya, aspek biokultural dan ekologisnya. Umumnya, makin purba temuan-temuannya, maka makin sedikit jumlahnya dan makin fragmentaris keadaannya. Jadi, tujuan paleoantropologi adalah mengetahui kehidupan biokultural manusia sejak kemunculannya di bumi, evolusinya melalui masa dan wilayah distribusinya selama dan seluas mungkin. Di mana Indonesia telah dihuni oleh manusia purba dan kuno dari masa sekitar 1,9 juta tahun yang lalu; oleh karena itu, Indonesia dapat menjadi miniatur untuk mempelajari evolusi manusia dan evolusi ekosistem manusia. read more

Alis

Penelitian Paleoantropologi Wednesday, 24 August 2022

Secara sederhana dalam perbincangan awam alis itu rambut di atas mata. Karena dianggap sebagai bagian dari regio mata, maka banyak orang yang menegaskan sebagai alis mata. Bagaimana jika mata tanpa alis? Jika kita berkacamata manusia sentris, kita akan lantang menjawab: “Alis itu sangat penting dalam kehidupan sehari-hari!” Tentu di antara kita bisa bereaktif menyolot: “Manusia tanpa alis itu seperti ikan!” Ya memang banyak hewan tidak perlu alis untuk dapat hidup. Ikan bandeng, tawes, mujair, tombro, cakalang, kepiting, kerang dan sejenisnya tidak butuh alis. Mungkin saja di sini ada pembaca yang nyeletuk iseng: ”Ikan tahu, tempe dan bakwan sayur juga tidak perlu alis!” read more

Merekonstruksi Manusia Purba

Penelitian Paleoantropologi Wednesday, 6 April 2022

Paleontologi sering disebut sebagai disiplin dalam geologi yang berkonsentrasi dengan temuan-temuan sisa-sisa organisme dari masa lampau. Temuan itu juga sering dirujukkan sebagai fosil. Bukti paleontologis tidak melulu fosil, namun bisa merujuk kepada jejak dan bekas. Fosil biasanya meliputi sisa-sisa jaringan keras, yakni geligi, belulang, cangkang, plastron dan karapas. Jejak dapat berupa cetakan-cetakan kaki hewan, jalur-jalur melata reptil dst. Bekas dapat berupa feses-feses hewan, rekaman cakaran pada sisa-sisa tulang dst. Fosil pun dapat berupa serangga yang terjebak dalam getah atau ambar. Dari flora, dapat berupa fosil kayu, fosil daun yang terekam dalam batuan, yang oleh proses geologis, mengalami pembusukkan, yang tertinggal hanya cetakannya – pembatuan. Jadi selulosanya telah tergantikan oleh silika. read more

Bayi Prematur Manusia itu Konsekuensi Evolutif

Penelitian Paleoantropologi Tuesday, 22 February 2022

Podiatri berakar dari bahasa Yunani, yakni pous, pod = kaki, dan iatros = dokter. Jadi podiatri itu cabang dari ilmu kedokteran yang berkonsentrasi pada pengetahuan, diagnosis dan terapi tungkai dan kaki. Dalam tulisan sangat singkat ini, yang saya maksudkan sebagai podiatri ini merujuk kepada anatomi dan fisiologi kaki hominid, termasuk dalam hubungannya dengan persendian dan tungkainya. Bahkan kadangkala juga dikaitkan dengan tulang belakang dan sistem rangkanya.

Podiatri ini telah mendapat tempat istimewa dalam kajian evolusi manusia dalam kaitannya dengan temuan-temuan fosil dari sisa-sisa ekstremitas hominid dalam lapisan-lapisan Pleistosen atau sebelumnya yang memperlihatkan adanya perbedaan-perbedaan anatomisnya yang makin samar seturut perjalanan waktu kemari. Podiatri telah berkontribusi dalam paleoantropologi, yakni berperan memberikan perspektif yang lebih luas dalam penelitian sisa-sisa hayat hominid sampai manusia arkeologis yang mengkosentrasikan pada anatomi dan aktivitas tungkai dan kakinya. Sejauh ini temuan-temuannya makin melimpah, termasuk di Indonesia, yang dapat meliputi tulang-tulang tungkai dan kaki, bahkan jejak-jejak kakinya. Pada bulan Agustus 1891, Marie Eugène François Thomas Dubois telah menemukan gigi molar isolatif yang masih diragukan sebagai hominid dalam suatu ekskavasi di Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Dua bulan kemudian, satu meter dari tempat temuan tersebut telah ditemukan atap tengkorak, fosil yang akan dikenal sebagai Pithecanthropus. Pada bulan Agustus 1892 ditemukan fosil ketiga yang berupa tulang paha kiri hampir lengkap, berjarak sekitar 10 – 15 meter dari temuan tersebut. Beliau telah menerbitkan sebuah deskripsi dari temuan-temuan fosil itu, dan memberi nama taksonomis Pithecanthropus erectus (“manusia kera yang berjalan tegak”) pada tahun 1894. Publikasi ini menggemparkan jagat ilmu pengetahuan waktu itu karena personifikasinya tidak menggambarkan sebagai kera atau manusia, tetapi sebagai suatu makhluk antara. Seketika itu pula reaksi-reaksi merebak luas di antara para ilmuwan khususnya Eropa, dan Eugène Dubois tetap dengan pendirian awalnya itu. Peristiwa ini telah mendudukkan Indonesia dalam paleoantropologi dunia melonjak hebat. Dalam masa Klasik dan Islam di Nusantara disinyalir beberapa raja atau penguasanya telah menapakkan cap kakinya ke suatu media sebagai tanda untuk suatu tujuan kekuasaan atau titahnya dalam beragam temuan atau situs arkeologis. read more

12

Recent Posts

  • Jejak Fosil, Jejak Pengetahuan: Antusiasme Siswa SMA Negeri 9 Yogyakarta Menyelami Evolusi Manusia di Museum Biopaleoantropologi
  • Serunya Mengenal Museum Bio-Paleoantropologi: Open House Program Sarjana FK-KMK UGM 2025
  • Museum Bio-Paleoantropologi UGM Jadi Laboratorium Belajar Mahasiswa Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret
  • Penguatan Pembelajaran Struktur, Perkembangan, dan Fungsi Hewan: Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Lakukan Kunjungan Akademik ke Museum Bio – Paleoantropologi
  • Delegasi UISPP 2025 Kagum dengan Koleksi Fosil Manusia Purba di Museum Bio – Paleoantropologi FK-KMK UGM
Universitas Gadjah Mada

LABORATORIUM BIO- & PALEOANTROPOLOGI
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat & Keperawatan

Universitas Gadjah Mada
Jl. Medika,  Sekip, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Email          : lab-biopaleo.fk@ugm.ac.id
Telp. / fax  : +62-0274-552577

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY