Dari mana asul usul manusia? Bagaimana kita sampai pada titik ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut keluar dari halaman buku biologi. Museum Bio-Paleoantropologi berubah menjadi ruang belajar yang hidup dengan kedatangan siswa SMA Negeri 9 Yogyakarta. Selama beberapa hari, Museum ini tidak lagi sekadar ruang pamer yang sunyi, melainkan menjadi tempat bertemunya rasa ingin tahu, sains, dan imajinasi yang ingin belajar tentang evolusi manusia.
Kunjungan ini dilaksanakan dalam tiga gelombang untuk memastikan proses pembelajaran berjalan efektif dan mendalam. Gelombang pertama yang terdiri dari 36 siswa berkunjung pada 20 Januari 2026 pukul 13.15–15.30 WIB. Kegiatan berlanjut pada hari berikutnya dengan gelombang kedua pada 21 Januari 2026 pukul 08.00–09.30 WIB, disusul gelombang terakhir dengan jumlah siswa yang sama pada pukul 10.30–13.15 WIB. Setiap gelombang membawa semangat yang sama: keinginan kuat untuk memahami perjalanan panjang tentang evolusi manusia.
Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan pendalaman materi mata pelajaran Biologi kelas XII, yang dirancang untuk memperkaya pembelajaran di kelas melalui observasi langsung dan studi lapangan. Dengan hadir langsung di Museum Bio-Paleoantropologi, para siswa memperoleh sumber belajar autentik yang tidak sepenuhnya dapat ditemukan di buku teks. Dengan melihat langsung fosil, informasi yang lengkap di Museum, menjadikan konsep-konsep abstrak terasa lebih konkret dan mudah dipahami.
Antusiasme siswa tampak jelas saat mereka mendalami berbagai topik yang selaras dengan kurikulum biologi. Mereka memperdalam pemahaman tentang konsep dasar evolusi, mengkaji teori asal-usul kehidupan seperti Abiogenesis dan Biogenesis, serta membandingkan teori-teori evolusi klasik dari Lamarck, Darwin, dan Weismann. Tidak hanya berhenti pada teori, para siswa juga belajar membaca jejak evolusi melalui fosil, anatomi perbandingan, embriologi, biogeografi, dan bukti genetik. Wawasan ini diperkaya dengan pemahaman mengenai mekanisme evolusi seperti seleksi alam, mutasi, arus gena (gene flow) menjelaskan perubahan spesies dari waktu ke waktu melalui variasi genetik dan proses adaptasi.
Lebih dari sekadar menambah pengetahuan, kunjungan ini memberikan sudut pandang yang lebih luas tentang perubahan peradaban manusia, bagaimana perubahan biologis berjalan beriringan dengan perkembangan budaya dan teknologi. Museum mendorong siswa untuk melihat manusia bukan sebagai entitas yang statis, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang yang dinamis, dibentuk oleh alam, waktu, dan inovasi.
Museum Bio-Paleoantropologi sangat mendukung kegiatan kunjungan edukatif seperti ini sebagai wujud komitmen nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui kolaborasi berbasis pendidikan, museum menegaskan perannya sebagai kontributor aktif dalam pembangunan pengetahuan yang berkelanjutan dan inklusif.
Kegiatan kunjungan edukatif seperti ini menjadi bukti nyata bahwa FKKMK UGM terus berperan sebagai rumah pengetahuan, tempat generasi muda Indonesia belajar, terinspirasi, dan mempersiapkan diri untuk berkontribusi secara bermakna bagi dunia yang lebih baik. Dari fosil hingga cita-cita masa depan, kisah evolusi manusia menemukan kehidupan baru dalam benak para siswa.
Penulis: Ilham Novitasari
Editor: Janatin Hastuti
