
Museum Bio-Paleoantropologi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) dipenuhi antusiasme dan diskusi yang hidup ketika siswa kelas 12 SMA Olifant dengan penuh rasa ingin tahu menjalani kegiatan field study untuk belajar secara langsung di luar ruang kelas.
Lebih dari sekadar kunjungan museum, program ini dirancang sebagai pengalaman riset interdisipliner yang menjembatani Cambridge AS Level Biologi dan Sosiologi dalam satu tema besar: ‘evolusi biokultural merupakan interaksi dinamis antara biologi, budaya, dan lingkungan dalam membentuk kehidupan manusia’.
Kunjungan ini melibatkan 118 siswa dan 5 guru pendamping yang dilaksanakan dalam empat Jumat berturut-turut yaitu tanggal 23 dan 30 Januari serta 6 dan 13 Februari 2026. Setiap sesi diikuti oleh kelompok yang berbeda untuk memastikan keterlibatan yang lebih fokus dan interaksi yang bermakna dengan pemandu museum.
Setibanya di Museum Bio-Paleoantropologi yang terletak di Gedung T. Jacob FK-KMK UGM, para siswa mengikuti pengarahan singkat dan sesi foto bersama sebelum memulai eksplorasi terpandu. Dari pukul 13.00 hingga 14.30 WIB, mereka menelusuri koleksi museum dengan mengamati fosil, rangka manusia, artefak budaya, serta dokumentasi antropologis yang merekam jejak evolusi panjang manusia.
Para siswa tidak datang sebagai pengamat pasif. Mereka telah dibekali lembar kerja dan bahan bacaan sebelumnya, sehingga memahami apa yang perlu diamati dan ditanyakan selama kunjungan. Tugas mereka adalah meneliti, menganalisis, dan kemudian menyusun artikel berbasis temuan lapangan.
Kegiatan ini disusun dalam enam fokus utama:
- Adaptasi Fisik dan Struktur Sosial
- Geografi, Iklim, dan Karakter Sosial
- Epigenetika, Stunting, dan Faktor Sosial
- Bagaimana Sejarah Meninggalkan Jejak pada Tubuh Manusia
- Pola Makan Leluhur dan Biologi Evolusi
- Gaya Hidup Modern dan Respons “Fight or Flight”
Melalui tema-tema tersebut, siswa diajak melihat bahwa fosil bukan sekadar benda mati, melainkan bukti hidup yang dapat dihubungkan dengan persoalan kesehatan dan sosial masa kini.
Bagaimana iklim memengaruhi metabolisme?
Apakah kelangkaan pangan di masa lalu masih berdampak pada angka stunting saat ini?
Apakah menjaga pola makan tradisional hanya soal budaya, atau juga intervensi medis?
Apakah gaya hidup sedentari modern sedang membentuk struktur tubuh baru?
Di dalam museum, pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas terjawab dan menjadi nyata.

Bagi pengelola Museum Bio-Paleoantropologi, kunjungan edukatif seperti ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan investasi bagi generasi mendatang. Kegiatan ini menumbuhkan rasa ingin tahu ilmiah, membangkitkan semangat belajar, dan mendorong siswa untuk bercita-cita dalam bidang kesehatan, riset, dan inovasi.
Selain itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen Museum Bio-Paleoantropologi UGM dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama: SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Kegiatan kunjungan edukatif seperti ini menjadi bukti nyata bahwa FKKMK UGM terus berperan sebagai rumah pengetahuan, tempat generasi muda Indonesia belajar, terinspirasi, dan siap berkontribusi untuk dunia yang lebih baik.
Penulis: Ilham Novitasari
Editor: Janatin Hastuti