Bagaimana kisah kehidupan jutaan tahun lalu dapat dipahami oleh masyarakat masa kini? Jawabannya tidak hanya ditemukan di dalam ruang museum, tetapi juga melalui upaya menghadirkan ilmu pengetahuan lebih dekat dengan publik. Berangkat dari semangat tersebut, Museum Bio-Paleoantropologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi dalam Pameran Keliling Vijaya Jaladri Nusantara yang berlangsung di Ndalem Djojokoesoeman, Kota Surakarta, pada 23–26 Juli 2026.
Ketika berbicara tentang obesitas, kebanyakan orang langsung mengaitkannya dengan berat tubuh berlebih atau angka pada timbangan yang pada umumnya berdasarkan massa tubuh total. Namun, penentuan obesitas paling tepat dilakukan dengan mengukur komposisi tubuh
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi dasar penelitian terbaru yang akan dilakukan oleh tim peneliti dari Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini berjudul “Komposisi Tubuh sebagai Prediktor Obesitas dan Performa Fisik Penduduk Umur 18–65 Tahun di Kecamatan Rongkop, Gunungkidul” dan berupaya menghadirkan cara yang lebih akurat dalam memahami kondisi kesehatan di masyarakat.
Belajar sejarah evolusi manusia tidak selalu harus lewat buku. Bagi puluhan siswa SD Negeri Dukuh 1 Sleman, pengalaman itu terasa lebih nyata ketika mereka melihat langsung jejak perjalanan manusia di Museum Bio-Paleoantropologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) pada Senin 15 Juni 2026.
Sebanyak 39 siswa bersama 11 guru pendamping mengikuti kunjungan edukatif ini sebagai bagian dari program Wajib Kunjung Museum (WKM) yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman tahun 2026. Program ini melibatkan sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Sleman sebagai upaya mengenalkan sejarah, budaya, dan warisan leluhur kepada generasi muda melalui pengalaman belajar langsung di museum.
Suasana Museum Bio-Paleoantropologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada tampak berbeda pada Kamis dan Jumat, 9–10 Juli 2026. Jika biasanya museum identik dengan suasana yang tenang, kali ini halaman museum dipenuhi gelak tawa, langkah kaki kecil yang berlarian, serta wajah-wajah penuh rasa ingin tahu. Puluhan anak, mulai dari usia balita hingga remaja, datang bersama orang tua mereka untuk mengikuti sebuah petualangan belajar yang tidak biasa.
Suasana pagi di Museum Bio-Paleoantropologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Selasa 30 Juni 2026 tampak berbeda dari biasanya. Museum yang umumnya tenang mendadak dipenuhi semangat dan antusiasme puluhan pelajar. Dua bus berhenti di halaman museum, menurunkan sekitar 50 siswa beserta guru pendamping dari SMP Negeri 1 Mertoyudan dan SMP Muhammadiyah Muntilan. Senyum, tawa, dan rasa ingin tahu para peserta seketika menghidupkan suasana, menandai dimulainya pengalaman belajar yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperluas cara pandang mereka terhadap kesehatan dan ilmu pengetahuan.
Indonesia merupakan rumah bagi lebih dari 1.300 suku bangsa yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Keberagaman tersebut tidak hanya tercermin dalam bahasa, budaya, dan tradisi, tetapi juga pada karakteristik fisik masyarakatnya. Namun, apakah perbedaan bentuk tubuh dan ukuran kepala antarsuku bangsa di Indonesia juga berkaitan dengan status gizi mereka? Pertanyaan inilah yang menjadi fokus penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada.
Pada pagi hari yang tenang, Senin 15 Juni 2026, suasana Museum Bio-Paleoantropologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) yang biasanya lengang berubah terasa lebih hidup dari biasanya. Museum tersebut menjadi lebih ramai ketika 50 pengunjung terdiri dari siswa dan guru. Mereka memasuki ruang-ruangnya, membawa serta rasa ingin tahu, pertanyaan, dan semangat untuk belajar.
Yang terjadi hari itu bukan sekadar kunjungan sekolah biasa, melainkan sebuah perjalanan edukatif dalam rangka program Wajib Kunjung Museum (WKM) yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman tahun 2026. Melalui program ini, sekolah-sekolah di Sleman didorong untuk menjadikan museum sebagai ruang belajar hidup, tempat sejarah, sains, dan budaya dapat dipelajari secara langsung di luar buku teks.