Belajar sejarah evolusi manusia tidak selalu harus lewat buku. Bagi puluhan siswa SD Negeri Dukuh 1 Sleman, pengalaman itu terasa lebih nyata ketika mereka melihat langsung jejak perjalanan manusia di Museum Bio-Paleoantropologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) pada Senin 15 Juni 2026.
Sebanyak 39 siswa bersama 11 guru pendamping mengikuti kunjungan edukatif ini sebagai bagian dari program Wajib Kunjung Museum (WKM) yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman tahun 2026. Program ini melibatkan sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Sleman sebagai upaya mengenalkan sejarah, budaya, dan warisan leluhur kepada generasi muda melalui pengalaman belajar langsung di museum.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya mengunjungi Museum Bio-Paleoantropologi UGM, tetapi juga Museum Pendidikan Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Museum Air Water for Life.
Sejak tiba di halaman museum, antusiasme siswa sudah terlihat jelas. Mereka tampak tidak sabar untuk segera masuk dan melihat koleksi museum dari dekat. Rasa penasaran itu semakin besar ketika pemandu mulai mengajak mereka menelusuri perjalanan panjang evolusi manusia melalui berbagai replika fosil, panel informasi, hingga alat peraga interaktif yang tersedia.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian siswa adalah peta interaktif yang menampilkan persebaran penemuan Homo sapiens di berbagai belahan dunia. Tidak sedikit dari mereka yang mencoba sendiri alat tersebut sambil bertanya kepada pemandu.
Salah satu guru pendamping mengungkapkan bahwa kunjungan seperti ini menjadi cara belajar yang lebih efektif bagi anak-anak, siswa bisa belajar dengan nyata dari media pembelajaran di museum.
“Biasanya materi tentang evolusi terasa cukup sulit dipahami jika hanya lewat buku. Tapi di museum, anak-anak bisa melihat langsung, mencoba, dan merasakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan,” ujarnya salah satu guru.
Ia berharap melalui kegiatan WKM ini para siswa dapat lebih dekat dengan ilmu pengetahuan, terutama mengenai sejarah kehidupan manusia dan perkembangan peradaban.
Menur
ut pengelola museum, setelah menjalani renovasi beberapa waktu lalu, Museum Bio-Paleoantropologi FK-KMK UGM semakin ramai dikunjungi. Tidak hanya oleh pelajar, tetapi juga akademisi, peneliti, hingga tokoh internasional. Hal ini semakin menguatkan peran museum sebagai pusat edukasi sekaligus riset tentang perjalanan kehidupan manusia.
Pihak museum menyambut baik kunjungan sekolah-sekolah seperti ini. Bagi mereka, semakin banyak siswa datang berarti semakin besar pula fungsi museum sebagai sumber belajar yang hidup dan relevan.
Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Melalui kunjungan seperti ini, Museum Bio-Paleoantropologi FK-KMK UGM diharapkan semakin dikenal luas sebagai pusat pembelajaran sejarah dan evolusi manusia. Lebih dari itu, museum ini diharapkan terus berkontribusi dalam memperkaya pengetahuan lintas disiplin dan memperluas pemahaman tentang perjalanan panjang peradaban manusia.
Penulis: Ilham Novitasari
Editor: Janatin Hastuti