Akhir dan awal pekan di Museum Bio-Paleoantropologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) tampak lebih hidup dari biasanya. Puluhan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) hadir untuk menyelami langsung jejak panjang sejarah manusia. Sebuah pengalaman belajar lapangan yang tak akan pernah tergantikan hanya oleh teori di dalam ruang kelas.
Sebanyak 72 mahasiswa yang didampingi dua dosen penanggung jawab mengikuti Kunjungan Akademik ke Museum Bio-Paleoantropologi FK-KMK UGM. Kegiatan ini dibagi dalam dua rombongan:
- Rombongan pertama: Jumat, 21 November 2025 sebanyak 36 mahasiswa dan 1 dosen pembimbing
- Rombongan kedua: Senin, 24 November 2025 sebanyak 27 mahasiswa dan 1 dosen pembimbing
Melalui agenda tersebut, para mahasiswa berkesempatan untuk mempelajari langsung koleksi fosil dan artefak penting hasil penelitian para ilmuwan UGM, dimana koleksi ini menjadi rujukan penelitian nasional hingga internasional, khususnya dalam studi evolusi manusia di Indonesia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi UNS untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai evolusi manusia, budaya purba, serta perkembangan riset paleoantropologi di Tanah Air. Dengan melihat langsung bukti-bukti sejarah kehidupan manusia, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif terhadap dinamika sosial-budaya masa lalu hingga kini.
Selama berada di museum, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai konteks ilmiah fosil yang dipamerkan, proses penelitian lapangan dan laboratorium, hingga kontribusi UGM dalam mengungkap perjalanan evolusi manusia dari masa ke masa. Museum ini dikenal menyimpan informasi mengenai fosil Homo erectus, spesies manusia purba yang banyak ditemukan di wilayah Jawa dan menjadi bagian penting sejarah evolusi manusia dunia.
Pihak UNS menyampaikan apresiasi atas kesempatan belajar di museum ini. Menurut mereka, pembelajaran lapangan seperti ini sangat penting untuk memperkuat pemahaman ilmiah mahasiswa dan melatih cara pandang kritis terhadap perkembangan manusia serta kebudayaannya.
Pengelola museum menyambut baik kegiatan ini. Mereka menilai bahwa kunjungan akademik mahasiswa menjadi salah satu bentuk dukungan nyata terhadap peran museum sebagai pusat edukasi dan penelitian. Selain meningkatkan literasi sains masyarakat, kegiatan seperti ini turut memperkuat reputasi Museum Bio-Paleoantropologi sebagai destinasi pendidikan unggulan.
Lebih dari itu, keberadaan museum juga berkontribusi pada pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama:
SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh,
SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Dengan terlaksananya kunjungan ini, diharapkan tercipta kerja sama berkelanjutan di bidang antropologi dan pendidikan di Indonesia. Museum Bio-Paleoantropologi UGM berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dalam rangka mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap sejarah manusia.
Penulis: Ilham Novitasari
Editor: Janatin Hastuti
