Pagi yang biasanya tenang di Museum Bio-paleoantropologi FK-KMK UGM mendadak terasa lebih hidup. Puluhan mahasiswa datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Mereka tidak hanya datang untuk melihat-lihat koleksi museum, tetapi untuk memahami secara langsung bagaimana kisah panjang evolusi manusia dapat ditelusuri melalui fosil dan bukti ilmiah.
Sebanyak 86 mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melakukan kegiatan observasi lapangan di museum tersebut. Kunjungan ini dilaksanakan dalam dua kloter, yaitu pada Selasa, 3 Maret 2026, dan Selasa, 10 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Praktikum Evolusi, yang bertujuan memperkaya pemahaman mahasiswa tentang teori evolusi melalui pengalaman belajar langsung di lapangan.

Kegiatan studi lapangan ini diajukan secara resmi melalui surat permohonan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta kepada pihak pengelola museum. Melalui kunjungan ini, mahasiswa diharapkan dapat menghubungkan teori yang dipelajari di ruang kelas dengan bukti-bukti nyata yang tersimpan di museum.
Kegiatan kunjungan diawali dengan penjelasan singkat mengenai sejarah evolusi manusia yang disampaikan oleh Rusyad Adi Suriyanto, S.Sos., M.Hum. Dalam pemaparannya, mahasiswa diperkenalkan pada gambaran umum tentang perkembangan manusia purba serta bagaimana para peneliti menggunakan fosil sebagai sumber utama untuk merekonstruksi perjalanan evolusi manusia.
Setelah sesi pengantar, para mahasiswa diajak berkeliling menjelajahi berbagai ruang pamer museum. Di sana mereka dapat melihat replika fosil manusia purba, rekonstruksi kerangka, serta berbagai panel informasi yang menjelaskan proses evolusi kehidupan di bumi. Tampilan visual dan koleksi ilmiah yang tersaji membantu mahasiswa memahami bagaimana para ilmuwan menafsirkan masa lalu melalui bukti biologis dan arkeologis.
Tidak hanya berhenti pada ruang pamer, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk melihat ruang penyimpanan koleksi (storage) Laboratorium Bio-Paleoantropologi, tempat berbagai spesimen fosil disimpan dan dirawat untuk kepentingan penelitian. Pengalaman ini memberikan gambaran yang lebih luas mengenai peran museum sebagai pusat pelestarian sekaligus penelitian ilmiah.
Bagi banyak mahasiswa, kesempatan melihat koleksi tersebut secara langsung menjadi pengalaman belajar yang sangat berkesan. Hal-hal yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku dan materi kuliah kini dapat dilihat secara nyata.
Kegiatan observasi lapangan seperti ini memiliki peran penting dalam mendukung proses pembelajaran sains. Melalui interaksi langsung dengan koleksi dan bukti ilmiah, mahasiswa dapat memahami lebih dalam metode penelitian yang digunakan dalam bidang paleoantropologi dan biologi evolusi.

Selain memperkaya wawasan, kunjungan ini juga mendorong mahasiswa untuk berdiskusi, bertanya, dan saling bertukar pandangan mengenai temuan yang mereka lihat selama kunjungan. Pengamatan tersebut kemudian akan mereka tuangkan dalam laporan praktikum sebagai bagian dari proses pembelajaran akademik.
Bagi pengelola museum, kunjungan edukatif seperti ini memiliki makna yang lebih luas. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi upaya untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap dunia sains, penelitian, dan inovasi.
Lebih jauh lagi, kegiatan edukatif ini juga sejalan dengan komitmen museum Biopaleonatropologi FKKMK UGM dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam bidang SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui kegiatan seperti ini, museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan sejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar yang hidup, tempat di mana generasi muda dapat memahami masa lalu, memperluas wawasan, dan memupuk semangat untuk berkontribusi pada masa depan ilmu pengetahuan.