Suasana Museum Bio-Paleoantropologi dan Museum Anatomi Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Yogyakarta pada Rabu, 6 Mei terasa lebih hidup dari biasanya ketika rombongan mahasiswa Pendidikan Biologi dari Universitas Ahmad Dahlan hadir untuk mengikuti kegiatan pembelajaran lapangan dengan tujuan untuk belajar secara langsung di museum ini.
Sebanyak 26 mahasiswa program sarjana mengikuti kunjungan akademik ini sebagai bagian dari mata kuliah Evolusi. Kegiatan yang dikoordinasikan oleh Juliana Nur’Alimah dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Kegiatan ini dirancang untuk menjembatani pemahaman konseptual dengan pengalaman ilmiah secara langsung. Mahasiswa tidak hanya mempelajari evolusi melalui buku dan kuliah teori, tetapi diajak berinteraksi langsung dengan bukti-bukti ilmiah yang nyata.

Kunjungan ini bertujuan memperkenalkan mahasiswa pada bukti konkret evolusi manusia yaitu sebuah topik yang kerap terasa abstrak dalam pembelajaran konvensional. Di lingkungan laboratorium dan museum, mahasiswa mengamati replika fosil, media interpretasi evolusi, serta penjelasan lintas disiplin yang menghubungkan biologi, antropologi, dan ilmu kebumian. Proses belajar pun berlangsung sebagai eksplorasi ilmiah yang memungkinkan mahasiswa mengaitkan narasi sains dengan evidensi fisik hasil penelitian.
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh Janatin Hastuti, S.Si., M.Kes., Ph.D., akademisi dan peneliti antropologi ragawi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan teori evolusi serta perkembangan manusia dari masa prasejarah hingga populasi modern. Kepakarannya di bidang antropologi biologis mengintegrasikan kajian evolusi bumi, Primates, dan manusia, adaptasi, serta rasiologi dalam perspektif ilmiah modern.
Suasana diskusi berlangsung dinamis, mahasiswa terlihat antusias mengajukan pertanyaan dan terlibat aktif dalam dialog akademik. Interaksi tersebut menjadikan pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan ruang pertukaran gagasan yang mendorong rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis.
Setelah sesi pemaparan, mahasiswa diajak menjelajahi ruang pamer museum. Berbagai koleksi ilmiah seperti replika fosil manusia purba, rekonstruksi kerangka, serta panel edukatif mengenai perjalanan evolusi kehidupan di bumi memberikan pengalaman visual yang memperkuat pemahaman konseptual. Melalui tampilan tersebut, mahasiswa dapat memahami bagaimana para ilmuwan merekonstruksi masa lalu berdasarkan bukti biologis dan arkeologis.
Dengan bekal daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya, mahasiswa semakin aktif berdiskusi selama kegiatan berlangsung. Kegiatan seperti ini mendorong mahasiswa mencari jawaban melalui observasi langsung, interpretasi data, serta dialog ilmiah sehingga dapat meningkatkan kompetensi bagi calon pendidik biologi di masa depan.
Pengelola museum memberikan apresiasi terhadap inisiatif perguruan tinggi dalam mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman dan studi lapangan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa proses belajar terbaik terjadi ketika mahasiswa terlibat aktif sebagai peneliti muda, bukan sekadar penerima informasi. Melalui keterlibatan langsung dengan lingkungan riset, mahasiswa dapat memahami bagaimana ilmu pengetahuan diproduksi, diuji, dan disampaikan kepada masyarakat luas.
Bagi para peserta, kunjungan ini tidak hanya menjadi pemenuhan tugas akademik, tetapi juga pengalaman reflektif untuk memahami perjalanan panjang evolusi manusia secara lebih nyata. Berhadapan langsung dengan jejak kehidupan purba menghadirkan kesadaran bahwa evolusi bukan sekadar teori ilmiah, melainkan kisah besar tentang hubungan manusia dengan alam dan perjalanan waktu.

Lebih jauh, kegiatan edukatif ini sejalan dengan komitmen Museum Bio-Paleoantropologi FK-KMK UGM dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Melalui kegiatan seperti ini, museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan sejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar yang hidup, tempat generasi muda memahami masa lalu, memperluas wawasan ilmiah, serta menumbuhkan semangat untuk berkontribusi bagi masa depan ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Penulis: Ilham Novitasari
Editor: Janatin Hastuti