Suasana di Gedung KPTU Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) tampak lebih hidup dari biasanya pada Kamis pagi, 7 Mei 2026. Sejak pagi hari, pimpinan fakultas, dosen, serta tenaga kependidikan menyambut hangat kedatangan delegasi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK UNHAS) yang melakukan kunjungan akademik ke Yogyakarta dalam rangka memperkuat pengelolaan pendidikan kedokteran.
Rombongan FK UNHAS tiba sekitar pukul 09.30 WIB dan disambut oleh jajaran pimpinan FK-KMK UGM dalam suasana penuh keakraban. Kunjungan ini dilaksanakan sebagai kegiatan studi banding yang berfokus pada sistem pengelolaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan subspesialis serta implementasi Academic Health System (AHS), dua komponen strategis yang mengintegrasikan pendidikan kedokteran dengan layanan kesehatan.

Kegiatan diawali dengan sesi presentasi institusional yang disampaikan oleh pengelola FK-KMK UGM. Dalam pemaparan tersebut dijelaskan struktur organisasi, strategi pendidikan, serta berbagai praktik terbaik dalam pengelolaan pendidikan dokter spesialis. Diskusi berlangsung interaktif dan menjadi ruang pertukaran gagasan antara kedua institusi yang sama-sama memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan mutu pendidikan kedokteran sekaligus pelayanan kesehatan.
Usai sesi presentasi, delegasi diajak berkeliling lingkungan fakultas oleh Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Para peserta melihat secara langsung berbagai fasilitas pembelajaran di FK-KMK UGM, termasuk dua fasilitas edukasi unggulan, yaitu Museum Bio-Paleoantropologi dan Museum Anatomi.
Salah satu agenda yang paling berkesan dalam kunjungan ini adalah eksplorasi ke Museum Bio-Paleoantropologi dan Museum Anatomi FK-KMK UGM. Rombongan yang dipimpin oleh Dr. dr. Andi Muh. Takdir Musba, Sp.An-KMN selaku Kepala Pusat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) FK UNHAS menyampaikan kekaguman terhadap koleksi museum serta konsep edukasi yang dihadirkan.
Museum Bio-Paleoantropologi menyimpan warisan ilmiah almarhum Prof. Teuku Jacob, seorang paleoantropolog Indonesia yang memiliki kontribusi besar dalam penelitian evolusi manusia di tingkat dunia. Para peserta berkesempatan melihat secara langsung koleksi fosil manusia purba, replika tengkorak, serta dokumentasi penelitian yang menggambarkan perjalanan panjang evolusi manusia di Nusantara hingga dunia internasional.

Prof. Dr. dr. Deviana Soraya Riu, Sp.OG., Subsp.KFM., MHPE turut menyampaikan apresiasi terhadap keberadaan museum edukatif tersebut. Menurutnya, pembangunan museum berbasis ilmu pengetahuan seperti ini memberikan manfaat besar tidak hanya bagi sivitas akademika, tetapi juga bagi masyarakat luas.
Delegasi kemudian melanjutkan kunjungan ke Museum Anatomi FK-KMK UGM yang menjadi pusat pembelajaran anatomi bagi mahasiswa kedokteran. Di lokasi ini, peserta diperkenalkan pada struktur tubuh manusia, fungsi organ, serta pentingnya ilmu anatomi dalam praktik medis.
Kegiatan ini menjadi contoh nyata pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu ilmiah sekaligus meningkatkan minat generasi muda terhadap dunia riset dan pendidikan tinggi.
Pengelola Museum Bio-Paleoantropologi menyampaikan bahwa kunjungan dari berbagai universitas memiliki peran penting dalam memperkuat kolaborasi antar institusi. Pertukaran pengalaman seperti ini membuka peluang pengembangan inovasi pengelolaan museum serta peningkatan kualitas layanan edukasi secara bersama.
Selain mempererat kerja sama akademik, kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen FK-KMK UGM dan Museum Bio-Paleoantropologi dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya: SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Kunjungan akademik delegasi FK UNHAS menegaskan bahwa museum pendidikan bukan sekadar ruang penyimpanan koleksi ilmiah, melainkan laboratorium pembelajaran hidup yang menghubungkan sejarah manusia, ilmu kedokteran, dan masa depan pendidikan kesehatan. Melalui interaksi langsung dengan koleksi evolusi manusia dan anatomi, para peserta memperoleh inspirasi baru dalam pengembangan kurikulum, inovasi metode pembelajaran, serta penguatan komunikasi sains kepada masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini membuka jalan bagi kerja sama akademik yang lebih luas dan mendorong lahirnya pendidikan kedokteran yang holistik, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan kesehatan global masa kini.
Penulis: Ilham Novitasari
Editor: Janatin Hastuti